Sabtu, 17 Januari 2015

Akibat Memuja Nyi Roro Kidul..



Hari Minggu, 13 Oktober 2002 pukul 16.24 wib seorang wanita, sebut saja namanya Fulanah,  berumur sekitar 35 tahun datang kerumahku saat aku sedang duduk di teras.  Kedatangannya sangat tiba-tiba. Aku segera matikan rokok yang masih enak aku hisap.
Setelah aku jawab salamnya, kemudian aku suruh dia masuk.  Dia duduk dikursi tamu yang menghadap barat. Tanpa basa-basi, lalu dia berkata:
“Mohon maaf pak, mengganggu sebentar, saya ingin minta tolong pada bapak…!”
Aku mengangguk : “…minta tolong apa bu…? Apa yang bisa saya bantu…?”
Wanita itu mengambil sikap santai, namun raut wajahnya  terlihat pucat, dingin dan…Masya Allaaah…. kedua matanya itu memancarkan  warna merah. Sangat tidak bersahabat ketika kedua matanya  menatap wajahku.  Aku berpura-pura tidak memperhatikan matanya, aku khawatir dia akan jadi  tidak santai lagi, tidak nyaman lagi,  tidak akan berkata yang sebenarnya tentang akan apa yang ingin dia sampaikan  kepadaku.
“Mohon maaf ya Pak…!” ucapnya berulang-ulang. Aku hanya mengangguk saja, masih menunggu kelanjutan ucapannya, hatiku berkata:  apa  maksudnya dia berkata seperti itu dengan berulang-ulang.
“Saya sebenarnya agak sedikti malu nih…sama Bapak…”
“Memang kenapa, kok malu sama saya…?” tanyaku. Aku berdoa kepada Allah Swt seperti do’a  yang pernah  diajarkan oleh Guruku, Alm. Ust. Ibrohim Ilyas.
“Ya Allah, apa maksud orang ini berkata demikian” kataku dalam hati. Aku berdo’a  pada Allah Swt agar wanita ini mau berbicara sejujurnya, apa adanya, tidak disembunyikan bila memang betul dia ingin  minta tolong kepadaku.
“Begini pak, saya dulu pernah tergelincir iman, tergelincir tauhid, tergelincir aqidah…….” Fulanah   menghentikan ucapannya.  Aku perhatikan wajahnya mengeluarkan keringat kecil,  dia  meremas-remas keduanya tangannya sendiri. Wajahnya ditundukkan, seolah-olah  tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya itu.
“Maksudnya apa bu…..?” tanyaku pelan agar dia mau santai lagi untuk berbicara kepadaku.
Fulanah  tidak langsung menjawab, setelah sekitar 5 menit, dia menengadahkan wajahnya, namun tidak mau menatap aku. Kedua matanya menatap langit.
“…saya pernah bersahabat dengan Nyi Roro Kidul…..pak….” lanjutnya lirih.
“Bersahabat bagaimana maksudnya, bu….?”
“Ceritanya panjang pak….!”
“Yaaa…, kalau begitu ibu singkat saja…!” pintaku memberikannya semangat untuk bercerita.
“Sekitar dua tahun yang lalu, saya pernah dihimpit oleh kesulitan dalam berbisnis. Semua usaha yang saya rintis selalu kandas, modal saya habis. Barang bisnis saya juga habis. Itulah yang membuat saya bingung, barang habis tapi uang saya juga habis, modal saya juga habis. Saya bingung..pak. Bisnis saya memang kecil-kecilan pak…, tapi bisa menunjang kehidupan keluarga dan rumah tangga saya, apalagi suami saya kena PHK dari tempatnya bekerja. Bisnis saya adalah  berjualan  pakaian dengan cara pembayaran kredit.” Fulanah berhenti sebentar, dia mengambil nafas, kelihatannya sangat berat nafas itu dihirupnya.
“Saat saya sedang pailit, tiba-tiba suami saya meninggalkan saya. Saya tidak tahu apa penyebabnya. Tapi akhirnya saya tahu juga, itu karena saya bertanya pada mertua saya. Mertua saya memberi  jawaban  yang membuat saya  hampir tidak percaya, mertua saya bilang bahwa suami saya meninggalkan saya karena menurut penglihatan mata suami saya wajah saya buruk dan jelek….” Fulanah menundukkan wajahnya, dari kedua matanya jatuh air bening,
Aku masih diam, belum mau memberikan reaksi atau sulosi apapun.
“Saya penasaran dengan jawaban mertua saya, lalu saya bertanya kepada orang-orang yang dekat dengan saya, dan ternyata mereka memberikan jawaban yang sama dengan mertua saya…” desis nafas Fulanah terdengar menghiba.
“…hmmm, ya ya ya….” desisku pelan.
“Saat saya sedang bingung dan pusing, lalu ada seorang wanita, teman saya,  memberikan jalan keluar, bahwa bila ingin bisnis saya kembali seperti semula, dan agar suami saya mau kembali lagi pada saya, dia memberikan saran agar saya datang saja ke sebuah hotel yang terkenal di daerah Jawa Barat dan saya disarankan agar menginap di sebuah kamarnya yang sering dikunjungi dan dipakai oleh orang-orang yang mempunyai nasib mirip seperti saya. Saat itu saya tidak menolak sarannya, tapi juga tidak mengiyakannya…”
Wajah Fulanah  semakin pucat, bibirnya bergetar pelan, lalu dia melanjutkan lagi pengakuannya:
“Setiap hari saya tidak bersemangat melakukan aktifitas apapun termasuk pekerjaan rumah tangga. Saya pusing dan bingung,  kepala rasanya mau pecah. Setelah beberapa hari kemudian,  akhirnya saya nekad mencoba mengikuti saran teman saya itu. Saya berangkat sendirian ke tempat yang dimaksudkan oleh teman saya. Sesampainya saya di sana, saya lihat sudah banyak orang yang sedang duduk, sepertinya mereka sedang mengantri, sebab mereka duduknya tidak terlalu jauh dari kamar hotel yang populer itu”.
Aku masih diam, mendengarkan penuturannya yang  mulai sedikit lancar.
“Tiba-tiba seorang lelaki tua yang berperawakan pendek dan gemuk menghampiri saya, dia bertanya kepada saya, apa maksud dari kedatangan saya ketempat ini”.
Kemudian Fulanah  bercerita, dia mengungkapkan maksud kedatangannya pada lelaki tua yang berperawakan pendek dan gemuk itu. Setelah melalui pembicaraan yang sedikit rumit, akhirnya ditemukanlah kata kesepakatan.  Fulanah  menuruti semua perintah dan syarat yang diberikan oleh lelaki tua pendek gemuk itu.
Tibalah giliran Fulanah memasuki kamar hotel itu, dia sendirian. Di dalam kamar hotel yang penuh dengan warna hijau itu, Fulanah dengan dibimbing kuncen kamar hotel, mengutarakan maksud kedatangannya pada sebuah foto wanita cantik yang dipasang pada kamar dekat tempat tidur yang berseprai hijau. Wanita itu hanya berbusana kemben. Ya, tidak salah lagi, konon gambar wanita cantik itu adalah nyi roro kidul. Sosok wanita misterius dan mistis yang sering dijadikan tempat pemujaan oleh manusia yang imannya dangkal bahkan mungkin hilang dari hatinya. Disekitar tempat gambar foto nyi roro kidul dipajang, Fulanah melihat banyak sekali sajen, ada bunga setaman, bunga melati, kemenyan, ayam bekakak dan masih banyak lagi. Asap dupa dari kemenyan yang dibakar oleh kuncen kamar hotel itu  membuat sesak nafas Fulanah. Ingin rasanya dia menutup hidungnya agar asap kemenyan yang bau dan menyesakkan nafasnya itu terhalang dari hirupan langsung hidungnya, tapi dia tidak berani, karena dia takut pada juru kunci kamar hotel itu yang kelihatannya angker.
Fulanah tidak berani menolak setiap ucapan dan bimbingan dari juru kunci kamar hotel itu. Dia selalu mengiyakan dan menuruti semua perintah sang kuncen.
Waktu berjalan, sekitar 30 menit berlalu, akhirnya Fulanah keluar dari kamar hotel itu. Kuncen kamar hotel itu memberikan syarat-syarat pada Fulanah bila ingin keinginannya terkabul, tanpa pikir panjang lagi Fulanah mengangguk dan mengiyakan saja. Lengkap sudah perjanjian dengan nyi roro kidul.
Dengan mengendarai bus Fulanah pulang kerumah, dadanya berdebar keras karena di sepanjang perjalanan dia melihat  ada sebuah kereta kencana yang dikendarai oleh tiga orang wanita cantik mengiringinya. Dia tidak tahu siapakah mereka. Tiga wanita cantik yang berusia sekitar 20 tahunan itu, terkadang memberikan senyuman kepada Fulanah saat dia menoleh untuk melihat wanita cantik itu. Dada Fulanah tambah berdebar saat melihat senyuman lembut dan manis namun penuh daya magis dari  tiga wanita cantik itu. Senyuman mereka  penuh dengan daya tarik yang  luar biasa, Fulanah merasakan lemas dan lunglai seluruh persendian tubuhnya.
Kereta kencana yang mengiringi Fulanah pulang ke rumah posisinya kadang di atas bus, kadang di samping jendela tempat Fulanah duduk. Makin berdebar dada Fulanah, dia masih belum mengerti siapa 3 wanita cantik itu. Anehnya, hanya dia saja yang dapat melihatnya, para penumpang bus yang lain tidak ada yang dapat melihat, bahkan penumpang bus sebelah Fulanah pun tidak tahu dan tidak dapat melihatnya. Penumpang itu hanya sempat terkejut pada Fulanah saat Fulanah  tersenyum dan menganggukkan kepala. Fulanah paham, dia segera menetralkan suasana, dia bicara& nbsp;pada penumpang sebelahnya, bahwa dia terbayang pada sebuah kejadian yang membuatnya tersenyum. Penumpang sebelah Fulanah pun ikut tersenyum.
Tiga bulan berlalu. Bisnis Fulanah mulai bangkit, dagangannya laris, duit banyak, suamipun telah kembali lagi, bahkan suaminya mengatakan bahwa tidak sanggup berpisah dari Fulanah, walaupun hanya sesaat.  Fulanah  senang dan bergembira, ternyata usahanya tidak sia-sia. Namun….disaat yang sama, disaat Fulanah senang, gembira, ternyata disaat itu pula Fulanah sengsara ! Bagaimana tidak ? Setiap malam jum’at Fulanah harus membakar kemenyan dengan berbagai macam sajen sesuai syarat yang diberikan oleh kuncen kamar hotel yang pernah dia kunjungi. Tempatnya harus dalam satu kamar khusus, tidak boleh dimasuki oleh siapapun, termasuk suami, anak atau keluarganya. Dikamar itu yang sengaja didesain mendadak oleh Fulanah, tidak ada benda lain kecuali gambar nyi roro kidul, pendupaan, kembang, bunga melati, kemenyan, kopi pahit, kopi manis, teh pahit, teh manis, susu, rokok lisong dan… warna hijau harus mendominasi kamar itu.
Awalnya Fulanah sangat senang melakukan ritual itu, lambat laun dia jenuh, bosan dan merasa ada beban yang bertentangan dengan hatinya. Bahkan kewajiban sebagai seorang muslimah untuk sholat 5 waktu, kini sudah dia tinggalkan. Betapa tidak, setiap  Fulanah berniat untuk sholat 5 waktu itu, maka pada saat itu juga Fulanah ketakutan, gemetar, menggigil keras, dadanya panas dan kepalanya seperti dipukul oleh  benda yang sangat berat.  Akhirnya perintah sholat dari Allah Swt itu dia tinggalkan.
Pernah suatu kali Fulanah tidak melakukan ritual di malam jum’at, dia cuma malas dan bosan saja sebenarnya, tapi apa yang terjadi…? Fulanah sakit 7 hari, dia jadi pemarah pada siapapun dan mengalami kejadian  yang membuat dia sengsara secara lahir atau bathin. Saat dia bercermin ternyata kedua matanya memancar warna merah yang menakutkan. Fulanah tambah ketakutan, apalagi dia pernah muntah darah, padahal dokter yang memeriksa dan mengobatinya mengatakan bahwa dia sehat, tidak ada penyakit apapun.
Bila mendengar suara adzan dari mesjid, televisi, radio atau dari manapun, hati dan telinga Fulanah kepanasan. Dia menjerit histeris karena tidak tahan mendengar suara adzan.
Seringkali Fulanah mengalami gugur kandungan, padahal jabang bayi yang ada dalam rahimnya sudah berusia 3 bulan, dan ketika diperiksa oleh dokter kandungan ternyata rahim Fulanah masih kuat, tetapi kenapa selalu keguguran.., begitulah pertanyaan keluarganya.
Dua tahun Fulanah didera penderitaan itu, sampai akhirnya dia datang kepadaku untuk meminta tolong agar aku mengobati penyakit bathin dan penyakit anehnya itu.
“Insya Allah, dengan ijin dari Allah Swt saya akan menolong ibu…” jawabku dengan mantap.
Aku segera menghubungi anak guruku, Ust. Ahmad Ferdi untuk bersama-sama membantu dan menolong Fulanah. Sesuai dengan perjanjian, aku dan Ust. Ahmad Ferdi datang kerumah Fulanah. Belum sampai masuk ke rumahnya, dari jarak 10 meter Ust. Ahmad Ferdi melihat 3 makhluk jin wanita, semuanya cantik berbusana warna hijau. Wajah mereka seperti kembar. Satu dibelakang tubuh Fulanah dan 2 nya lagi berada di kamar yang sering dipakai Fulanah untuk melakukan ritual khusus pada setiap malam jum’at.
Tanpa basa-basi lagi aku segera menangkap jin-jin  itu.
“Laailaaha illalloooh…!” jin-jin itu aku tangkap. Aku ikat dengan ikatan ghoib, mereka tidak ada yang  melawan. Lalu kami sidang:
“Siapa kalian…?” tanyaku.
“Apa urusan kamu ?” jawab jin itu bersamaan.
“Kami hanya ingin tahu saja…”
“Kami dari pantai selatan.  Apa maksud kalian menangkap dan mengikat kami…?”
Aku tidak menjawab pertanyaan jin-jin itu, tapi aku tambah lagi dengan pertanyaan yang lain:
“Sudah berapa lama kalian berada di tubuh ibu ini dan di rumah ibu ini…?”
“Dua tahun…!”
“Siapa yang menyuruh kalian datang dan berada di rumah dan tubuh wanita ini..?”
“Ratu kami, atas permintaan wanita itu…” jawab salah satu jin sambil menunjuk pada Fulanah.
“O…begitu, siapa nama ratu kalian…?”
“nyi roro kidul !”
“roro kidul…?” tanyaku agar lebih jelas.
“iya…”
“Sekarang ratu kalian sedang di mana..?”
“Di singgasananya, di pantai selatan…”
“Apakah kalian bisa mengundang ratu kalian untuk datang ke sini…?”
“Untuk apa…?”
“Ingin berkenalan saja…,” jawabku santai demi mengecoh jin-jin itu. Aku pikir kalau aku menjawab dengan sebenarnya pastilah jin anak buah nyi roro kidul ini tidak akan mau menuruti permintaan kami. Padahal niat kami adalah ingin “MENUNTASKAN” sampai keakar-akarnya.
“Bagaimana, kalian mau mengundang ratu kalian ke sini….?”
“ratu kami tidak bisa datang…” jawab salah satu jin di antara mereka.
“Kenapa…?”
Mereka tidak menjawab. Aku sudah menduga, bahwa  jawaban jin anak buah ratu kidul ini penyebabnya karena mereka takut  pada ratunya saja.
“Baiklah, kalau begitu kami yang akan memanggil ratu kalian…”
“Jangan…! nanti kami dapat hukuman…!”
“Hukuman apa yang akan kalian dapat dari ratu kalian…?” tanyaku mengorek.
“Kami akan dicambuk berkali-kali karena telah melanggar perjanjian dengan dia…”
“Perjanjian apa itu…?”
“Kami harus patuh dan taat pada ratu kami apapun masalah dan kejadiannya, diantaranya adalah kami dilarang untuk mengundang kanjeng ratu  bila sedang berhadapan dengan bangsa manusia…” jawab satu jin diantara  mereka dengan menyebut roro kidul dengan kanjeng ratu.
Tanpa minta persetujuan lagi dari  jin-jin itu, lalu aku dan Ust. Ahmad Ferdi membaca amalan yang telah diajarkan oleh guru kami Alm. Ust. Ibrohim Ilyas.
Kira-kira 5 menit, tiba-tiba angin berhembus pelan dan lembut. Saat angin berhenti dari hembusannya, lalu muncullah sosok makhluk ghoib berkelamin wanita di hadapan kami. Makhluk ghoib ini berbusana seperti busana wanita kraton, dia hanya berkemben dengan motif kembang di sekitar ujung kainnya, warnanya hijau. Ada selendang hijau tipis yang diikat di pinggangnya yang ramping. Dikepalanya ada mahkota  emas. Rambutnya hitam terjurai sampai ke pantat. Tangan kirinya memegang tongkat warna emas, diujungnya ada mahkota emas pula. Usianya sekitar 25 tahun.  Parasnya cantik melebihi kecantikan dari 3 jin yang sudah kami tangkap dan ikat tadi.  Dari tubuhnya tercium bau wangi seperti bunga melati. Dia datang sendirian.
“Ada perlu apa kalian memanggil aku…?” tanya wanita ghoib itu pada kami.
“Kamu siapa…?” jawabku balik bertanya kepadanya.
“Nyi Roro Kidul…!”
Subhaanalloh, ternyata amalan dan do’a yang telah diajarkan oleh guru kami khususnya untuk memanggil makhluk ghoib sebangsa roro kidul ini sangat ampuh. Kami mengamati makhluk ghoib yang memperkenalkan dirinya sebagai nyi roro kidul itu.
Aku dan Ust. Ahmad Ferdi tidak terkejut, biasa saja. Kami sudah menduga sebelumnya bahwa roro kidul akan datang, meskipun anak buahnya melarang kami untuk memanggilnya.
Ust. Ahmad Ferdi dan aku kembali membaca amalan dan do’a yang telah diajarkan oleh guru kami, dan hasilnya…..? Masya Allaaah…..makhluk ghoib yang mengaku sebagai nyi roro kidul itu langsung berubah wujud dan penampilannya secara 360 derajat.
Makhluk ghoib yang mengaku roro kidul itu kini berwujud dan berpenampilan menjadi nenek-nenek yang aku perkirakan usianya ratusan tahun. Wajahnya yang cantik kini berkeriput pucat. Mahkota di kepalanya kini hilang dan menjadi gumpalan rambut gimbal yang diikat keatas. Bau tubuhnya amis dan anyir,  aku hampir muntah saat mengendusnya.  Tongkat emasnya menjadi sebuah tongkat kayu biasa yang berwarna hitam lapuk. Mulutnya yang semula manis tersenyum kini menjadi mulut nenek-nenek yang sudah hilang semua giginya.  Aku malas melihat senyumannya yang jelek, apalagi dia juga ketawa dengan cekikikan yang sumbar…wuah tambah jelek saja makhluk ini, gerutuku dalam hati.
Dan…jin-jin anak buahnya yang telah aku tangkap serta aku ikat tadi, ternyata merekapun semuanya telah berubah wujud dan penampilannya. Wujud dan penampilan mereka lebih jelek lagi jika dibandingkan dengan makhluk ghoib yang mengaku  roro kidul itu.
Astaghfirulloh…makhluk ghoib semacam ini kenapa dipuja-puja oleh manusia? Bukankah manusia itu lebih tinggi derajatnya jika dibandingkan dengan mereka para jin, apalagi jin kafir? Begitulah gumamku dalam hati.
“Begini hai roro kidul…” kataku dengan tidak memanggil dia dengan nyi roro kidul, atau ratu kidul atau kanjeng ratu. Hal itu sengaja aku lakukan, sebagai bagian dari  keyakinanku bahwa manusia derajatnya lebih tinggi dari pada jin.
“Kamu dan anak buahmu ini yang tiga, kami minta kalian jangan menggoda dan membujuk bangsa manusia untuk ikut dalam kelompok kalian. Kamu lihat wanita ini ? dia sengsara karena telah bersekutu dengan kalian…!” kataku lagi sambil menunjuk pada Fulanah yang sedang menggigil hebat.
“Memang kenapa ?” tanya roro kidul datar.
“Ketahuilah, bahwa kalian dan bangsa kalian telah banyak menyesatkan umat manusia terjerumus kedalam lembah syirik !” jawabku mantap sambil mengencangkan perutku.
“Apa itu musyrik…?” tanya roro kidul.
“Syirik adalah dosa yang sangat besar yang tidak akan diampuni oleh Allah Swt”.
“Seperti apa dosa syirik itu..?” tanya roro kidul lagi.
“Bila ada manusia yang memuja dan mempercayai sesuatu selain Allah, kemudian dia menganggapnya  sebagai tuhan sesembahan, maka dia telah berbuat syirik. Kenapa syirik ? karena  manusia telah menganggap ada tuhan lagi  selain Allah Swt. Bila manusia atau bangsa jin, melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Allah dan Rosul-NYA, maka itulah syirik. Allah Swt dan Rosul-NYA mengajarkan tentang KEESAAN ALLAH SWT,  kalau ada makhluk yang menentang tentang KEESAAN ALLAH berarti dia telah SYIRIK. Kalau ada manusia percaya, dan selain percaya mereka juga memuja kamu,  menyembah kamu bangsa jin, itu syirik. Pemujaan dan penyembahan bangsa manusia kepada bangsa jin bermacam-macam&nb sp;bentuk dan wujudnya. Ada yang dalam bentuk minta kekayaan pada bangsa jin, atau minta agar cepat naik pangkat, minta perusahaan menjadi besar, minta karier naik, minta menjadi jagoan, minta kekebalan, minta menjadi sakti mandraguna,  minta menjadi pendekar yang ditakuti oleh semua orang, minta  keselamatan dan masih banyak lagi permintaan yang lainnya yang ditujukan kepada bangsa jin” jawabku mengalir begitu saja.
“Saya tidak pernah mengajak umat manusia untuk ikut dalam kelompok kami, apalagi mengajak pada kemusyrikan…” jawab roro kidul datar, seolah tidak merasa bersalah.
“Lalu kejadian dan fakta yang ada pada bangsa manusia, seperti masalah ibu Fulanah itu apa..? jawabku sedikit gregetan.
“Mereka sendirilah bangsa manusia yang datang dan meminta kepada saya. Karena manusia  telah meminta, maka  saya mengabulkan permintaan mereka dengan syarat harus memenuhi permintaan saya pula..” jawab roro kidul.
“Apa itu permintaan kamu…? tanyaku mengejarnya.
“Memberikan sajen untuk saya…”
“Apa bentuk sajen yang kamu minta pada manusia yang telah memuja dan menyembah kamu?”
“Macam-macam,  tergantung jenis dan golongan manusianya…”
“Apa maksud kamu….”
“Kalau dia nelayan, maka saya menyuruhnya untuk melarung sajen kelaut sebagai persembahan semacam upeti khusus untuk saya. Bila manusia yang telah meminta kepada saya kemudian dia melarung sajen kelaut tapi tidak mempersembahkannya untuk saya, maka saya tidak akan mengabulkan permintaan mereka. Saat itu saya marah dan kesal pada manusia semacam itu. Terhadap mereka saya akan memberi  rasa takut yang teramat sangat menghantui pikirannya, bahkan sampai kedalam hatinya, hal yang demikian saya maksudkan agar mereka percaya kembali kepada saya. Saya akan mengutus anak buah saya untuk masuk kedalam tubuh manusia yang berada di sekitar mereka…”
“Maksud kamu… manusia yang dimasuki anak buah kamu itu jadi kesurupan…?”
“Ya ! “ jawab roro kidul sedikit sombong sambil menganggukkan kepalanya.
“Lalu setelah itu…?”
“Anak buah saya itu saya perintahkan untuk  berbicara melalui mulut orang yang dimasukinya itu, bahwa setiap bencana yang terjadi di laut, gunung, hutan bahkan di berbagai alat transportasi adalah karena perbuatan saya bersama  anak buah saya. Kami katakan kepada bangsa manusia bahwa semua  itu  disebabkan karena manusia sudah tidak mau lagi menuruti perintah saya.”
Aku dan Ust. Ahmad Ferdi menggelengkan kepala. Aku lihat Fulanah kedinginan, badannya bergetar keras, bibirnya bergeretak.
“Manusia mana saja yang menjadi sasaran untuk kamu masuki tubuh dan jasadnya?”
“Semuanya, semua lapisan….kami  tidak pernah pilih-pilih.”
“Apa agama kamu…?”
“Saya tidak beragama…”
“Apa ? tidak beragama ?” pengakuan roro kidul ini membuat aku dan Ust. Ahmad Ferdi tidak percaya.
“Kami  telah sering mendengar dari orang-orang yang telah bersahabat dengan kamu, berkelompok dengan kamu, bahwa menurut mereka kamu itu adalah makhluk yang suci, berhati baik dan bersih dan beragama islam. Benar demikian…?” tukasku menjelaskan pada roro kidul.
“Salah !” jawab roro kidul ketus.
“Astaghfirullohal ‘azhiim…..” gumamku dengan keras  berbarengan dengan Ust. Ahmad Ferdi.
“Panaaaaas…..” tiba-tiba roro kidul dan 3 jin anak buahnya itu menjerit keras sambil menutup kedua telinganya ketika  mendengar ucapan istighfar kami. Fulanah juga demikian, dia menutup kedua telinganya, dan sedikit menjerit.
Singkat cerita, setelah melalui proses sidang yang lama dan cukup panjang, adu argument yang rumit, lalu kami berdakwah kepada roro kidul. Aku menyuruh  dia  dan seluruh anak buahnya agar bertaubat sebelum Allah Swt memberikan hukuman yang sangat keras kepada makhluk yang telah berbuat kemusyrikan. Kami himbau pula untuk masuk agama Islam. Roro kidul menolak, setelah berulang kali kami menghimbau dan mengajaknya namun selalu saja ditolaknya, lalu kami memutuskan untuk MENGISTIRAHATKAN AKTIFITAS roro kidul di pentas kemusyrikan.
Kami bacakan ayat-ayat Al Qur’an lalu ditambah dengan Asmaul Husna sesuai dengan amalan dari guru kami dengan jumlah tertentu, kami lihat 3 jin anak buah roro kidul bergandengan tangan menghimpun kekuatan untuk melawan kami. Kami terus membaca amalan dari guru kami, lalu 3 jin wanita tersebut menjerit kepanasan. Saat melihat anak buahnya menjerit, lalu dengan serta merta roro kidul bergabung dengan 3 anak buahnya itu, mereka bersatu menghimpun kekuatan. Aku dan Ust. Ahmad Ferdi terus membaca ayat-ayat Al Qur’an dan Asmaul Husna, kali ini kami baca dengan suara sedikit keras daripada sebelumnya, aku perhatikan mulut roro kidul dan 3 anak buahnya itu mengeluarkan darah hitam, baunya sangat anyir menyengat, dan……kira-kira  3 menit kemudian, 3 anak buah roro kidul terbakar,  tidak lama kemudian mereka MATI. Tubuh mereka hangus dan hancur.
Kini hanya tinggal roro kidul sendirian yang masih bertahan terhadap GEMPURAN kami. Aku memberikan isyarat kepada Ust. Ahmad Ferdi agar kami mengeluarkan pedang ghoib. Dia setuju. Lalu kami berdoa pada Allah Swt agar amalan dari guru kami yang akan kami baca menjadi PEDANG GHOIB. Setelah sekian kali kami membaca dengan jumlah tertentu, lalu muncullah di telapak tangan kanan kami sebuah pedang ghoib berwarna transparan. Panjangnya sekitar 5 meter, lebarnya 30 cm, kemudian secara bersamaan aku dan Ust. Ahmad Ferdi menebas leher roro kidul…..
“CRAAAS…!” putuslah kepala roro kidul dari lehernya. Darahnya bercucuran di tanah, baunya anyir memuakkan. Aku dan Ust. Ahmad Ferdi menutup hidung kami masing-masing  agar bau darah roro kidul yang anyir itu tidak masuk kelubang hidung kami.
Tubuh roro kidul yang sekarang sudah tidak berkepala itu terhuyung-huyung, tidak lama kemudian dia ambruk  ke tanah dengan mengeluarkan suara keras : Gedebrug ! Dia menggelepar !
Kemudian aku dan Ust. Ahmad Ferdi membaca lagi ayat-ayat Al Qur’an, daaan…..tubuh roro kidul itu sekarang terbakar, dia bergerak-gerak kesakitan mirip dengan seekor ayam yang habis dipotong. Tubuhnya dibanting, melompat-lompat tanpa arah. Kira-kira 5 menit kemudian, akhirnya tubuh roro kidul itu HANGUS DAN HANCUR SEPERTI DEBU.
Shodaqollohul’azhiim. Amiin Ya Robbal’aalamiin.
Kepada Fulanah kami mengingatkan  dan mengajaknya  untuk kembali kejalan yang benar, tinggalkan semua maksiat dan dosa syirik, kami sarankan untuk segera bertaubatan nasuuha.
Fulanah mau, dengan disaksikan oleh kami, dia berjanji pada Allah saat itu juga, bahwa dia bertaubat dari jalan yang sesat itu.
Alhamdulillah, kami berdoa semoga Allah Swt menerima taubatnya Fulanah, diampunkan dosa dan kesalahannya yang telah lalu, dan semoga pula Allah tetap memberikan taufiq dan hidayah.
Aku berikan nasehat kepada Fulanah, bahwa roro kidul itu adalah jin yang sesat dan menyesatkan, banyak manusia yang terkecoh dan terjerumus kedalam kemusyrikan ketika mereka memuja dan menyembah roro kidul. Janganlah sekali-kali mendekati apalagi bersahabat dengan bangsa jin, apalagi  jin sejenis roro kidul. Mereka pandai dan licik, sehingga manusia yang dikelabuinya tidak pernah menyadari kalau mereka telah bersekutu dengannya. Fakta membuktikan, bahwa banyak manusia yang menyokong, mendukung bahkan membela roro kidul dengan berbagai argument yang sepertinya benar  tetapi sebenarnya salah, sesat dan menyesatkan.
Sampai bulan Oktober 2010 ini kami masih saja mendengar dari orang-orang tentang keberadaan dan eksistensi roro kidul, bahkan masih saja ada orang yang mengaku telah bertemu dan berkomunikasi dengan roro kidul. Ada yang mengaku berteman roro kidul, adapula yang mengaku telah mengalahkan roro kidul hingga roro kidul takluk padanya. Ceritanya bervariasi dan terkesan mengagumkan. Astaghfirullahal ‘azhiim.
Menurut kami, bila setelah kisah nyata  ini (Minggu, 13 Oktober 2002) ada orang yang mengaku masih bertemu dengan roro kidul, ketahuilah bahwa mereka sebenarnya  bukan bertemu dengan roro kidul asli, tapi dengan jin lain yang mengaku-aku sebagai roro kidul. Itulah jin qorin dari roro kidul. Kenapa demikian? Yah, karena RORO KIDUL  ASLI   TELAH KAMI  ISTIRAHATKAN UNTUK SELAMA-LAMANYA DARI DUNIA KESYIRIKAN. KAMI DAPAT MELAKUKAN SEMUA ITU KARENA ADANYA MAUNAH, IJIN DAN PERTOLONGAN DARI ALLAH SWT. DAN BUKAN KARENA KEMAMPUAN KAMI MAKHLUK  YANG DHOIF DISISI ALLAH SWT.
Anda yang membaca kisah nyata kami ini, kami beri kebebasan dalam menyikapinya. Anda boleh percaya atau tidak percaya. Tapi ketahuilah, bahwa kisah ini benar-benar telah terjadi.
Memang kejadian ini belum pernah aku tulis apalagi dipublikasikan, semula aku berpikir tidak terlalu penting, tapi ketika aku melihat fenomena BAHAYA tentang roro kidul itu semakin menjadi-jadi pada semua lapisan masyarakat, maka dengan memohon kepada Allah Swt agar aku diberikan kekuatan dan kemampuan dalam berdakwah lewat tulisan yang ditaruh di internet,  juga dalam rangka AMAR MA’RUF DAN NAHI MUNGKAR, aku segera saja menulis kisah ini dengan tetap bersandar pada pertolongan Allah Swt.
ALHAQQU MIN ROBBIKA FALAA TAKUUNANNA MINAL MUMTARIIN
“KEBENARAN ITU (DATANGNYA) DARI TUHANMU, MAKA JANGANLAH KAMU TERMASUK ORANG-ORANG YANG RAGU (DENGAN KEBENARAN)”
Al QUR’AN SURAT AL BAQOROH : 147

Semoga ada manfaatnya, setidaknya bisa dijadikan sebagai wawasan.
(UST. DJONAKA AHMAD dan UST. AHMAD FERDI)

Share this video raih fahala..!!

ok

Jumat, 31 Oktober 2014

Terusir dari Telaga Rasul..


Bisa berjumpa dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari kiamat adalah dambaan setiap muslim. Terlebih Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjanjikan bahwa beliau akan menunggu kita para umatnya di telaganya (al Haudh) untuk bersama-sama minum air telaga itu. Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku menunggu kalian di al Haudh, telaga. Siapa yang mendatanginya, dia akan minum airnya. Dan siapa yang minum airnya, tidak akan haus selamanya” (HR. Bukhari)

Allahu akbar, sungguh telaga yang luar biasa. Minum airnya sekali, tidak akan haus selamanya. Siapa yang tidak ingin menikmatinya? Terlebih ketika itu seluruh manusia dalam kondisi sangat kehausan. Setelah dijemur di mahsyar dalam kurun waktu yang hanya diketahui Allah, sementara matahari didekatkan dalam jarak satu mil. Apa yang bisa kita bayangkan? Manusia akan berlomba-lomba untuk mendatangi haudh itu, agar bisa menikmati airnya.

Setiap Nabi Memiliki Telaga
Rasulullah bersabda, “Sungguh setiap Nabi memiliki telaga. Dan mereka saling membanggakan siapakah yang telaganya paling banyak dikunjungi. Aku berharap, telagakulah yang paling banyak pengunjungnya” (HR. Tirmidzi no. 2443 dan dishahihkan al-Albani).

Hadis-hadis Tentang Haudh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Agar kita semakin memiliki harapan untuk menikmati air telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita perlu mengenal bagaimana gambaran telaga itu lebih mendalam?
Terdapat banyak dalil yang menceritakan tentang telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, berikut diantaranya,

Pertama, dalil dari Al Qur’an, firman Allah (yang artinya), ”Sesungguhnya Aku telah memberikan kepadamu Al Kautsar.” (QS. Al Kautsar : 1)
Dalam hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita, ”Ketika saya berjalan-jalan di surga, saya melihat ada sungai yang dikelilingi permata berongga. Akupun bertanya, ’Apa ini, wahai Jibril?’ (Jibril menjawab), ”Ini adalah Al Kautsar yang diberikan Tuhanmu kepadamu”. Ternyata tanahnya dari misk yang sangat wangi baunya” (HR. Bukhari)\

Sungai kautsar inilah yang menjadi sumber air bagi telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadis dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang haudh, beliau bersabda, ”Bermuara di telaga itu dua aliran dari surga. Siapa yang minum airnya tidak akan haus selamanya” (HR. Muslim)

Kedua, dalil dari hadis
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menggambarkan telaga ini dengan sangat detail dan jelas, layaknya kita melihatnya secara langsung. Berikut bebrapa hadis yang menjelaskan Al Haudh,
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Telagaku panjangnya sejauh perjalanan satu bulan. Sudutnya pojoknya sama. Airnya lebih putih dari pada susu, baunya lebih wangi dari pada misk. Gayungnya seperti bintang di langit. Siapa yang minum sekali, tidak akan haus selamanya” (HR. Bukhari dan Muslim)
Keterangan:
  • Makna : ’Sudutnya pojoknya sama’, sebagian ulama menjelaskan, panjang dan lebarnya sama. (Syarh Shahih Muslim, Muhammad Fuad ’Abdul Baqi)
  • Makna : ’Gayungnya seperti bintang di langit’, gayungnya sebanyak bintang di langit dan gemerlap seperti bintang di langit. (Ta’liq Shahih Bukhari, Musthofa Dib Bugho)
Kemudian hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Telagaku panjangnya lebih jauh dari pada jarak antara Ailah dengan Adn. Airnya lebih putih dari salju, lebih manis dari pada madu yang dicampur susu. Sungguh gayungnya lebih banyak dari pada jumlah bintang. Aku menghalangi orang-orang (yang bukan umat beliau) untuk mendekati telagaku, sebagaimana seseorang menghalangi onta orang lain untuk mendekat ke wadah airnya.
Para sahabat bertanya, ’Ya Rasulullah, apakah anda mengenaliku di hari itu?’
Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Ya, kalian memiliki tanda yang tidak dimiliki oleh umat sebelumnya. Kalian mendatangiku dalam keadaan putih di wajah dan tangan-kaki, karena bekas wudhu” (HR. Muslim)

Keterangan:
Ailah adalah nama daerah di ujung utara jazirah arab. Sementara Adn adalah nama daerah di ujung selatan Yaman, pesisir samudera hindia. (Syarh Shahih Muslim, Muhammad Fuad ’Abdul Baqi)
Dalam riwayat Muslim dari Anas, Rasulullah bersabda, ”Tampak di telaga itu ceret-ceret dari emas dan perak, sejumlah bintang di langit” (HR. Muslim)

Mereka yang Terusir dari Haudh
Telaga yang demikian luar biasa, penuh kebaikan, ternyata tidak semua bisa menikmatinya. Ada beberapa umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak bisa mendatangi haudh, apalagi menikmati kesegaran airnya. Mereka seolah dihalangi, hingga tersesat tidak menemukannya. Sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berusaha memanggilnya, agar mendatangi haudh.
Umatku…umatku… beliau berharap agar mereka bisa turut mendatangi haudh. Hingga beliau mendapatkan jawaban dari Malaikat, mengapa mereka tidak bisa mendatangi haudh.
Pemandangan menyedihkan ini disebutkan dalam banyak hadis. Berikut diantaranya,
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku berada di haudh. Menunggu orang yang datang kepadaku diantara kalian. Demi Allah, ada beberapa orang yang dijauhkan dariku. Sungguh aku memanggil, ‘Ya Rabb, mereka dariku dan dari umatku.’ Kemudian Dia menjawab, “Kamu tidak tahu apa yang mereka perbuat setelahmu. Mereka terus kembali mundur (murtad)” (HR. Muslim)
Dalam hadis dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Akulah yang pertama kali mendatangi Haudh. Siapa yang menuju kepadaku akan minum, dan siapa yang minum niscaya tidak akan haus selamanya. Sungguh akan ada beberapa kaum yang mendatangiku dan aku mengenalnya dan mereka juga mengenaliku, kemudian antara aku dan mereka dihalangi. Akupun mengatakan, ’Mereka umatku.’ Kemudian disampaikan kepadaku, ”Kamu tidak tahu, perbuatan bid’ah apa yang mereka lakukan setelahmu.” Lalu aku berkomentar, ”Celaka.. celaka orang yang mengubah agama sepeninggalku” (HR. Bukhari & Muslim)
Ibnu Abi Mulaikah, Seorang ulama tabiin yang termasuk perawi hadis ini, pernah berdoa, ”Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu, jangan sampai aku balik ke belakang (murtad) atau aku terfitnah sehingga tersesat dari agamaku” (HR. Bukhari)
Mereka Umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Dalam hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan siapakah orang yang terusir dari telaga beliau. Mereka termasuk umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengenalinya dengan ciri yang ada pada diri mereka. Hingga merekapun beliau panggil, Umatku… umatku…
Hanya saja, mereka umat beliau yang menyimpang. Menyimpang dalam amal dan bahkan dalam aqidah. Dengan sebab ini, mereka terusir dari telaga beliau. Karena dulu ketika di dunia, mereka tidak menjadikan sunnah beliau sebagai sumber agama. Sehingga di akhirat, mereka tidak bisa menikmati air telaga beliau yang berkah.
Ibnu Abdil Bar mengatakan, ”Setiap orang yang berbuat bid’ah dalam masalah agama, merekalah yang akan dijauhkan dari Al Haudh, seperti khawarij, rafidhah (syiah), dan seluruh ahli bid’ah. Demikian pula orang zhalim yang berlebihan dalam kezhalimannya dan berusaha menghapus kebenaran, dan yang terang-terangan melakukan dosa besar. Mereka semua dikhawatirkan menjadi orang yang disebutkan dalam hadis ini. Allahu a’lam (Syarh Shahih Muslim An Nawawi, 1/137)
Keterangan yang sama juga juga disampaikan Al Qurthubi. Beliau menjelaskan, ”Para ulama kami menjelaskan, semua orang yang murtad dari agama Allah, atau membuat sesuatu yang baru dalam agama yang tidak Allah ridhoi dan tidak pernah diizinkan oleh Allah, merekalah orang yang akan dijauhkan dan dihindarkan dari Al Haudh. Orang yang paling dijauhkan adalah mereka yang menyimpang dari jamaah kaum muslimin dan keluar dari jalan mereka, seperti khawarij, dengan berbagai sekte sempalan mereka…demikian pula mu’tazilah dengan berbagai sekte pecahannya. Mereka semua adalah kelompok-kelompok yang mengubah syariat.
Demikian pula orang yang bertindak berlebihan dalam melakukan kezhaliman dan menghapuskan kebenaran. Bahkan membantai orang yang mendakwahkan kebenaran dan menghinakan mereka. Termasuk mereka yang terang-terangan melakukan dosa besar, dan berjibun maksiat. Juga kelompok yang menyimpang, pengikut hawa nafsu, dan bid’ah. (At Tadzkirah, hlm. 352)

Semoga Allah memudahkan kita untuk mendatangi haudh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bisa menikmati airnya.
Penulis : Ustadz Ammi Nur Baits, S.T.

Share this video raih fahala..!!!